Sunday, February 15, 2009

kilas2 yang mengingatkan kita untk eling, waspodo, dan sakmadyo (moderat-seimbang)

Kak Seto dan KPAI mengunjungi Ponari dan menyimpulkan terjadi ekploitasi pada anak ini. Hak-haknya sebagai anak telah dirampas. Kak Seto menawarkan solusi misalnya dengan: masyarakat tetap diberi apa yang diinginkannya, dengan diatur melalui penjadwalan pengobatan, lalu pembuatan tangki air 'bertuah'. Ponari normal, dan berujar ke Kak Seto kalau ia bercita-cita menjadi tentara. Tentunya ia harus tetap bisa bersekolah dan menjalani masa anak-anaknya secara normal. Kerabat dan orang-orang sekitar pun tidak boleh lagi memanfaatkan booming ini untuk kepentingan pribadi dengan merugikan Ponari, bahkan sampai memukul bapaknya Ponari.
Lalu, ada batu petir serupa milik Ahmad Ihsanjuni alias Cak Mat dari Banyuwangi. Menurutnya, batu petir itu direndam, lalu dengan media air didoakan oleh Cak Mat dan si pasien. Menurutnya, ia telah membuktikan khasiat batu tersebut, yakni ia yang buta kini bisa melihat titik-titik cahaya.
Ada juga fenomena alam: ubin panas di kec. Gunungsidur Bogor, dipercaya mampu menyembuhkan penyakit, misal rematik. Dengan bergantian 10 menit, masyarakat berduyun-duyun tiduran di atas ubin di kamar tersebut untuk mengobati sakitnya.
All folks, rekan-rekan semua, kilas-kilas peristiwa ini mengingatkan kita untuk eling, waspodo, dan sakmadyo. Arti sederhananya adalah bersikap rasional, namun juga moderat atawa seimbang. Yakni, tidak serta-merta memvonis fenomena Ponari sebagai syirik atau tidak rasional, pun tidak juga mengimani bahwa batu itulah atau anak itulah yang menyebabkan kesembuhan. Batu itu, atau anak itu, adalah lantaran, sebagaimana obat, sarana penyembuhan yang datang dari Tuhan. Boleh saja Anda menganggap kesembuhan itu adalah faktor sugesti, atau bahwa kesembuhan itu adalah faktor doa yang dikabulkan. Kita tidak bisa apriori pada sesuatu yang spiritual dan gaib di alam maya ini. Namun berkubang melulu pada kegaiban bukanlah sikap yang arif. Musti ada keseimbangan antara usaha (ikhtiar) dan doa (tawakkal). Ikhtiar bisa berupa pencarian obat medis atau non-medis, sedangkan doa adalah penyerahan diri tatkala sudah mengusahakan sekemampuan kita. Peminum obat pil pabrik dan peminum air batu Ponari, sama-sama berada pada koridor ikhtiar--yang sama-sama musti mendaraskan doa penghubung spiritual ke Pemilik Kehidupan: bahwa kesembuhan adalah dari-Nya, apapun usaha kita.
Dan maybe, fenomena-fenomena alam ini merupakan pengingat dari-Nya, bahwa kita musti membaca alam raya sebagai jalan menuju pendekatan diri pada-Nya. Jangan menzolimi alam, jangan membalak mengeruk bumi penuh kerakusan; jangan menzolimi kawan, korupsi awut-awutan; jangan menzolimi diri, makan segala benda tanpa tahu halal-haram gizi-junk. Mari back to nature, adil pada semesta, dan dengan itu perlahan-lahan kita akan semakin berdekat pada Pencipta semesta...

[juga dimuat di sini)